Tampilkan postingan dengan label Mencoba menilai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mencoba menilai. Tampilkan semua postingan

Refleksi Sang Pemimpi

Posted by Just Abud Label:

Kalau semua orang memuja Aray kenapa sekarang aku malah lebih simpatik ke Ikal,,
Baru aku sadari bahwa karakter Ikal begitu manusiawi,,
Bagaimana ia punya impian tetapi juga bisa rapuh dlm pencapaiannya,,
Bagaiman ia menggambarkan sifat manusia sebenarnya,,
Manusia bisa saja lelah, bisa saja bosan, bisa saja begitu egois, bisa saja begitu lemah pada Duniawi sehingga terkadang memilih jalan "aman" untuk hidupnya,,
Tapi kemudian ia bangkit, ia kembali menapak impiannya,,
Menata kembali kehidupannya, menata kembali paradigmanya, menyulam kembali benang-benang impiannya,,

Bukankah itulah kehebatan sesungguhnya kaum kita?kalau kita mengejar impian tanpa pernah Jatuh maka perasaan saat mendapatkan impian tersebut kurang ada seninya,,
Manusia yang hebat adalah manusia yang bisa bangkit dari keterpurukannya,,
Bagaimana ia harus mengalahkan dirinya sendiri, mengalahkan setan-setan dalam pikirannya,,
Mungkin bahkan trauma dengan kegagalan yang dimilki,,
Betapa sulitnya melalui saat itu,,betapa nikmatnya ketika keberhasilan itu datang,,

Aku rasa untuk generasi sekarang kita tak hanya melihat pada tokoh Aray, tetapi jug pada tokoh Ikal karena sesungguhnya tokoh Ikallah yang dekat dengan kita,,
Sesuai dengan realitas kita saat ini yang memang terkadang bertindak terlalu emosional,,


Inilah yang aku dapatkan dari tokoh Ikal semoga semua bisa ikut merefleksikan,,

Teater Gandrik

Posted by Just Abud Label:

Lakon Korupsi di Atas Panggung Satire

“Hanya korban yang bisa membinasakan korupsi” itulah sebaris kutipan yang tertera dalam poster PAN-DOL yang tersebar di seluruh daerah Yogyakarta.

Ketika pintu masuk dibuka pada jumat malam (4/6), para penonton mulai berdesakan untuk memasuki ruangan. Mereka seakan tak sabar melihat penampilan seniman yang dinaungi oleh teater Gandrik. Namun, keinginan mereka harus terhambat oleh petugas pemeriksaan karcis yang berdiri di sisi pintu. Lampu di langit-langit gedung masih menyala kala penonton telah menemukan tempat duduknya di dalam ruangan. Suasana cukup riuh pada barisan depan panggung. Penonton dengan tiket lesehan terlihat berebut menemukan tempat paling strategis.

Di tengah panggung tampak ruangan terbuka berbentuk persegi yang dihias oleh tirai merah. Mikrofon-mikrofon dipasang bergelantung laiknya lampu-lampu kecil. Peralatan musik tersusun rapi di sebelahnya dan siap untuk ditabuh. Pemain-pemain yang lain mulai sibuk berinteraksi menciptakan suasana kebersamaan. Pada saat itu, sempat terpikir bahwa pementasan mereka telah dimulai. Namun, pikiran itu hilang seketika oleh kedatangan Djaduk Ferianto

Ia merupakan salah satu tim kreatif dalam pertunjukan teater Gandrik. Teater yang sudah berdiri selama 27 tahun ini berorientasi pada model kritik “guyon parikeno”. “guyon parikeno” merupakan sindiran secara halus terhadap penguasa. Pementasannya pun terkadang seperti mengejek diri sendiri walaupun sesungguhnya objeknya adalah orang lain. Pementasan di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta dibuka oleh ucapan salam dan banyolan-banyolan khas Djaduk.

Banyolan itu berakhir diiringi temaramnya lampu ruangan Concert Hall. Suasana yang sesaat senyap disambut oleh tarian-tarian dan alunan musik Jawa. Mereka memperkenalkan nama teater Gandrik dalam lantunan pantun. Selain itu, juga terdengar dendangan khas nyinden yang kemudian disusul oleh nyanyian lagu. Adegan demi adegan pun mulai bergulir. Dalam adegan pertama, sudah terasa unsur komedi yang membuat penonton tertawa. Pergantian tiap-tiap adegan ditandai dengan kerasnya alunan musik Jawa yang ditabuh.

Tiap adegan yang mereka lakoni mengalir dengan mulus sehingga membentuk cerita yang mudah dipahami penonton. Pementasan tersebut menceritakan mengenai panti perawatan mental korban korupsi. Panti yang dikenal dengan PAN-DOL atau panti idola ini menjadi solusi pemberantasan korupsi. Para korban korupsi pun mendapatkan prestige yang tinggi dari presiden ataupun masyarakat. Karena itu, masyarakat berbondong-bondong ingin menjadi salah satu penghuni PAN-DOL.

Gagasan cerita di atas berawal dari keresahan Heru Kesawa Murti selaku penulis naskah. “Bagaimana kalau yang paling krusial dan signifikan dalam persoalan korupsi itu adalah korbanya,” ujarnya dalam kutipan wawancara. Dalam realitas saat ini, masyarakat hanya membicarakan kasusnya, koruptornya, dan besar uang yang dikorupsi. Namun, mereka tak pernah menyoroti nasib korban korupsi, seperti keluarga dan teman yang bisa saja psikologisnya terganggu karena kasus tersebut.

Kegelisahan itulah yang memicu Heru untuk mengemasnya dalam sebuah drama “guyon parikeno”. Kritik yang disampaikan merupakan kritik yang selama ini hangat dibicarakan. Para pemain mengkritik besan presiden yang terlibat korupsi. Mereka juga mengibaratkan Sri Mulyani sebagai TKW karena telah menerima pekerjaan dari luar negeri. Selain itu, sindiran disampaikan pada anggota DPR. Mereka menyebutkan bahwa anggota DPR hanyalah orang yang bodoh. “Banyak bertanya berarti bodoh?” tanya Citra yang memerankan tokoh Maekani. “Kan anggota dewan,” jawab Owel, tokoh yang diperankan Whani.

Selain kemasan kritiknya yang jenaka, ada adegan yang begitu istimewa, yakni adegan ping pong. Adegan tersebut terjadi ketika pemeriksaan dilakukan oleh panitia pemeberantasan korupsi. Dalam adegan itu, tampak jelas perbedaan karakter dua tokoh, yakni Masgul dan Aleman. Masgul yang diperankan Heru Kesawa Murti merupakan tokoh yang mudah terpengaruh dan tidak bisa tenang dalam menghadapi sesuatu. Di sisi lain, ada Aleman yang tenang dan suka membelokkan permasalahan. Tokoh yang diperankan Broto Wijayanto ini banyak menggunakan bahasa Inggris yang diplesetkan. Pemeriksaan yang mereka alami beradu anggun di satu panggung.

Para pemain teater Gandrik menunjukkan bebas berimprovisasi. Selain berimprovisasi antarpemain, mereka juga berimprovisasi dengan peralatan yang ada. Untuk memudahkan penganalogian penonton, mereka menggunakan peralatan di atas panggung ketika berdialog. Hal ini jelas membuat penonton tak perlu berpikir lama untuk memahami maksud dialog mereka.

Sayangnya, adegan penganalogian dengan peralatan yang ada berlangsung terlalu lama. Penonton sempat bosan melihat adegan yang monoton. Dalam berdialog, mereka juga menggunakan bahasa Jawa. Padahal banyak penonton yang berasal dari luar Jawa sehingga mereka mengalami kesulitan memahami dialog itu. Meskipun demikian, pementasan teater Gandrik selalu dinantikan oleh masyarakat Yogyakarta. Penonton tak kan menyesal menghabiskan akhir pekan sambil menikmati pementasan mereka.

Resensi Film

Posted by Just Abud Label:

ALANGKAH LUCUNYA (NEGERI INI)

Muluk adalah seorang sarjana managemen yang belum mendapatkan pekerjaan. Meskipun ia telah menjadi pengangguran selama dua tahun, ia tak pernah putus asa dan selalu mencoba semua kesempatan yang ada. Peluang itu kembali ia temukan ketika ia bertemu dengan komet, pencopet yang ada di pasar. Dengan berbekal ilmunya, ia mengajukan kerjasama kepada bos para pencopet yang bernama Jarot untuk mengelola keuangan mereka dengan imbalan 10 persen dari keseluruhan hasil mencopet.
Pada awalnya, Muluk tidak mendapatkan respon yang baik dari para pencopet. Namun, kepercayaan yang diberikan Jarot kepada Muluk dapat meredam ketidaksetujuan para pencopet. Muluk mulai membuat strategi untuk mengelola uang tersebut. Secara tak langsung, ia telah membohongi keluarga dan orang-orang sekitarnya bahwa ia telah mendapatkan pekerjaan. Semakin lama berinteraksi dengan para pencopet, Muluk merasa bahwa mereka mempunyai potensi untuk dapat berubah. Oleh karena itu, ia meminta bantuan dari teman-temannya, sarjana yang masih pengangguran untuk berpartisipasi dalam mengubah para pencopet.
Usaha Muluk dan teman-temannya membuahkan hasil. Para pencopet mulai menunjukkan perubahan yang positif. Mereka mulai bisa membaca, menghitung, bahkan melakukan salat. Melihat perubahan yang begitu positif, Muluk mulai mengarahkan para pencopet untuk berdagang dan meninggalkan profesinya yang dulu. Namun, untuk melakukan itu semua ia harus bergelut dengan sistem yang begitu kuat dan pengorbanan yang begitu besar.

Tiga paragraf di atas merupakan secuil dari sinopsis film garapan Deddy Mizwar yang berjudul “Alangkah Indahnya (Negeri Ini)”. Film ini didukung oleh para pemain kawakan, seperti Slamet Rahardjo, Jaja Mihardja, Tio Pakusadewo, Reza Rahadian yang tahun lalu menyabet piala citra, dan Ratu Tika Bravani yang pertama kali terjun di dunia perfilman. Seolah ingin mengulang kesuksesan film-film sebelumnya, Deddy kembali menggandeng pemain-pemain yang berkompeten, yakni Asrul Dahlan (Para Pencari Tuhan) dan Sakurta Ginting (Kiamat Sudah Dekat). Deddy Mizwar juga mengajak anak-anak yayasan yang beberapa dari mereka adalah mantan pencopet. Penyajian “Alangkah lucunya (Negeri Ini)” berupa genre komedi yang mengandung nilai moral yang tinggi. Film ini menggambarkan realitas-realitas yang ada di Indonesia. Realitas-realitas tersebut menyangkut permasalahan pengangguran, pendidikan, dan korupsi.

Terdapat dialog yang memperdebatkan mengenai penting tidaknya suatu pendidikan. Hal ini jelas menyindir sistem pendidikan di Indonesia yang belum berfungsi secara semestinya. Judul “Alangkah Lucunya (Negeri Ini)” menambah daya tarik tersendiri bagi penonton. Judul tersebut merupakan penegasan dari sindiran terhadap sistem di Indonesia. Adegan-adegannya tidak monoton scene-scene yang lucu, tetapi juga ada sisi-sisi yang memacu emosional penonton. Seperti tipe film-film karya Deddy Mizwar yang lain, ia tetap mempertahankan nilai-nilai keislaman sebagai salah satu bumbu didalamnya. Nuansa cinta yang ada merupakan wujud kecintaan pada orang tua dan juga kecintaan pada tanah air.

Pada akhir film, penonton merasa tertipu. Adegan yang dipikir adalah klimaks ternyata merupakan akhir dari cerita. Akhir film yang menggantung tersebut jelas membuat penonton bertanya-tanya. Namun, disinilah letak kekuatan pesan yang ingin disampaikan. Akhir cerita tersebut membuktikan bahwa permasalahan-permasalahan yang digambarkan di film masih belum dapat diselesaikan dalam realitas nyata di Indonesia sekalipun. Film yang dirilis bulan April 2010 ini menggugggah penonton untuk merefleksikan nasib bangsa Indonesia selanjutnya.