Semester dua...Pertama kalinya aku merasakan cinta, benar-benar jatuh cinta. Duduk di dalam kelas dan mendengarkan dosen berbicara. Awalnya, mereka hanya perkenalan saja, mereka menyebutkan nama, cara kepengajaran, dan bla..bla..blaa..Kemudian, mereka mulai memperkenalkan materi perkuliahan, dan anehnya tiba-tiba jantungku berdebar kencang. Hmmm...benar-benar aneh karena tanganku juga gemetaran. Semua perasaan beradu jadi satu, senang, optimis, takut, pesimis. Semakin dosen itu menjelaskan, semakin kencang debaran jantungku. Aku tak peduli apabila ini dianggap lebay karena memang ini perasaan nyataku. Aku benar-benar jatuh cinta pada ilmu Tuhan. Semua imajinasiku membahana. Aku akan mempelajari itu semua disini. Namun, seiring dengan berjalannya waktu kecintaan itu seakan luntur. Perkuliahan menjadi membosankan. Aku tak mendapatkan apapun di bangku kuliah. Cinta sesaatkah aku??Pertanyaan ini menggelayutiku. Aku mulai tak percaya pada diriku dan pilihanku. Bulan berganti tanpa hasil dari semua materi, tak disadari ujian akhir sudah menanti. Aku hanya termenung karena tak tahu harus berbuat apa. Belajar atau menghindar?. Tetapi ternyata aku terlalu berburuk sangka. Ketika aku mengerjakan take home ujianku, rasa cinta itu muncul kembali. Semua lelah seakan terobati oleh hasil yang diraih. Analisis-analisis yang sangat menyenangkan meskipun meterkadang menjengkelkan. Kini, aku membuktikan bahwa kecintaan terhadap sesuatu mempunyai kekuatan yang besar. Meskipun aku merasa bosan, merasa lelah, merasa jenuh, atau bahkan merasa jengkel, semua terkalahkan oleh cintaku pada ilmu di Sastra Indonesia. IPku semester ini memang menurun dari 3,80 menjadi 3,57 dan tak sesuai targetku yang 3,66. Namun, aku tak pernah menyesal karena memang kualitas yang kudapatkan tidak menurun. Aku hanya salah memilih mata kuliah estetika. Mata kuliah ini terlalu cepat kuambil. Akibatnya, hasilnya tak maksimal. Aku kurang menganalisis suatu mayta kuliah sebelum memilihnya. Ini pelajaran berharga untuk semester depan. Aku hanya perlu lebih teliti dan berhati-hati dalam bertindak....
Surabaya…
Kota terbesar kedua setelah Jakarta
Pusat perbelanjaan yang menggugah iman
Mulai dari barang dagangan sampai wanita jalanan
Kota pahlawan yang dibanggakan
Bonek – bonek bertebaran biang kerusuhan
Inilah Surabaya…
Kota yang masih tetap sama tiap tahunnya
Kehedonan masih melanda
Kerusakan tetap terjaga
Dan kebobrokan kian di depan mata
Kota inilah yang dulu jadi istanaku. Tempat yang semakin lama semakin menyesakkan. Bangunan-bangunan menjulang yang semakin banyak membuat semua orang makin terlena. Fasilitas-fasilitas yang ada telah merubah cara pandang masyarakat sampai mereka lupa tujuan mereka ada. Aku pernah merasakannya, bagaimana nyamannya bersama keluarga, indahnya masa remaja, dan nikmatnya kehidupan. Semua terasa mudah dijalani. Tapi apa memang ini yang aku inginkan? Mengapa aku tetap merasa ada yang kurang? Sesuatu yang tak aku dapatkan di rumah, hal yang tak dapat teman-temanku dan keinginan yang belum aku temukan. Aku merasa berjalan di tempat dan semua yang terjadi selalu sama. Aku tau ada perasaan yang memang harus aku cari keberadaannya. Waktu membuat aku sadar akan adanya kefanaan. Kefanaan yang telah aku nikmati tanpa harus berusaha. Kefanaan yang tak bernilai tanpa adanya pengorbanan.
Aku sadar dunia tak berjalan sendiri, masih ada akhirat yang menunggu kita. Tapi kenapa kita seakan hanya hidup untuk kefanaan dunia dan mengabaikan kekekalan akhirat. Mata kita belum terbuka atau memang kita yang tak mau membukanya. Dan Islamku membuka segalanya. Islamku memenuhi rasa yang belum pernah ada, rasa yang selama ini aku cari, rasa yang tak dapat kita nikmati dalam keluarga atau saat bersama para sahabat. Kebutuhan pemikiran dan spiritual yang menjawab semua kegundahan dan menetapkan sebuah impian. Kotaku masih tetap sama tapi penghuninya yang harusnya berubah. Akankah kita masih tetap jadi orang yang menutup mata? dan membiarkan kota kita tercinta hancur di depan mata kita?
"Narsis" mungkin itu yang ada di benak teman-temanku ketika melihat kelakuanku,,
Aku juga bingung kenapa aku bisa senarsis ini? kakakku pun mengakuinya dan aku kini pun juga mengakuinya..
Tapi salahkah sebuah kenarsisan itu?
Kenarsisan yang membantuku untuk menutupi kelemahanku?
Hmmmm,,kelemahan apa? pasti itu yang ada di benak kalian...
Tahukah kalian sebenarnya seberapa besar rasa minderku, rasa rendah diriku?
Diriku seakan mempunyai sistem secara reflek untuk selalu membandingkan diri sendiri dengan orang lain, entah dalam hal jasmani ataupun rohani..
Itu tentu perbuatan yang buruk?!
Karena itu, kala aku menyadari kelemahanku, aku belajar untuk "narsis"...
Belajar menanamkan kepercayaan diri pada diriku..
Ternyata aku tak hanya sulit percaya dengan orang lain, aku juga sulit percaya pada diri sendiri..
Mungkin selama ini tak ada yang menduga betapa aku harus memperkuat kenarsisannku..
Hanya agar semua tak tahu betapa mindernya aku,
Aku juga seakan terperangkap dari imajinasiku..
Sulit membedakan mana kenyataan dan mana sekadar angan-angan..
Aku ingin menghapus kenangan buruk di masa laluku,,
Tetapi sepertinya aku jadi bingung mana yang akan dihapus dan mana yang telah terhapus..
Aku sulit mengendalikan semua itu,,
Kini untuk menata kembali kenanganku, aku ingin mengabadikan semua moment-moment hidupku,.
Melalui foto? mungkin ini cara yang paling praktis..
Hal ini membuatku suka sekali mengabadikan semua hal dalam hidupku..
agar aku benar-benar tahu kenyataan dalam hidupku,,
Jika hal ini membuat semua orang menganggapku "narsis", maka silahkan berpikir seperti itu,,
Toh itu hanya sebuah julukan, bukan sesuatu yang harus diperdebatkan..
Sebenarnya sudah lama ingin menuliskan rasa bersalah untuk kalian semua saudaraku...
ketika awal perjalananku ke Solo waktu itu, rasa gelisah itu telah muncul di benakku..
bagaimana aku bisa beradaptasi dengan saudara baruku?itu pertanyaan pertamaku..
dan aku benci harus mengakui bahwa pertanyaan itu masih bergelantung di pikiranku..
sampai saat ini pun aku bingung mengungkapkan pada kalian bagaimana rasa takutku?bagaimana rasa kekagumanku pada perjuangan kalian disana..
kala aku hanya berkutat dengan kuliahku, kalian telah melangkah lebih dari itu...
tak hanya belajar demi karirmu, tapi juga demi "CITA-CITA" kita semua...
kalian berada di garis depan dan aku hanya ada di balik layar...
memang aku punya keterbatasan, tetapi itu tak layak aku manfaatkan...
di saat aku mulai tergoda oleh dunia, kalian menyiapkan amalan akhirat...
bahkan untuk sekadar menyapa kalian saja aku tak tahu harus memulai dari mana?
"apa kabarnya disana?"
haruskah aku mulai dengan basa-basi yang sudah sangat basi...
sungguh memalukan...
aku pasti ditertawakan Tuhan...
bolehkah jika aku sekadar mengucap maaf?
atas hal-hal yang belum bisa aku buktikan?
maukah mereka memberikan aku sedikit waktu saja?
untuk kembali menata semuanya?
untuk bisa lebih bersikap adil pada keduannya?
Dia baru saja melintas di depanku,,
Tentu aku tertawa,,
Bahkan sebelum dia mengucap kata-kata,,
Sebelum dia berekspresi seperti biasa,,
Aku tahu namanya tapi tak mengenalnya,,
Aku tahu wajahnya tapi tak menyapanya,,
Aku hanya melihatnya dari balik kacamata,,
Dan tertawa atas perilakunya,,
Ketika dia tadi melintas, aku menyuruh temanku untuk memanggilnya,,
Tentu bukan untuk minta kenalan,,
Hanya ingin melihatnya mengungkapkan kata-kata,,
Ekspresi yang berbeda dari orang-orang kebanyakan,,
Sikapnya mungkin stereotip, tapi ekspresinya adalah tipologi,,
Sekadar hiburan yang menyenangkan jika melihat tingkah lakunya,,
Rasanya seperti penguntit saja,,
hahahahahaha
Malam ini aku harusnya pulang ke
Masa-masa itu, masa SMA yang katanya masa yang sangat menggembirakan bagi mayoritas orang. Namun, kulalui bagai neraka ketika saat itu aku ditetapkan menjadi anak IPA di SMA itu. Orang tuaku tentu senang mendengar hal itu, sebuah kebanggan adalah paradigma yang dimiliki mereka dan orang tua yang lain. Aku pun awalnya terjebak dalam paradigma mereka. Namun, sejenak aku sadar aku tak mampu di dalamnya. Bukan karena sikap pesimis, tapi realistis. Aku bertanya pada mamaku untuk pindah ke jurusan IPS dan tentu saja itu pertanyaan yang tolol. Bagaimana mungkin orang tua mau mengorbankan kebanggannya hanya demi keegoisan anaknya. Dan kesalahan pertamaku adalah aku mengalah. Mencoba menjalani kehidupan di IPA sungguh menyesakkan. Hari-hari yang dijalani hanya sebagai rutinitas tak bermakna. Aku mengisi tiap pelajaran di sekolah dengan tidur lelap mencoba melupakan kebodohanku. Karena itulah aku menjadi anak yang selalu diremehkan disana. Di tahun terakhir berada pada “kelas jenius”, tempat berkumpulnya anak-anak yang kepandaiannya mayoritas di atas rata-rata. Awalnya mungkin menggembirakan karena bisa sedikit memanfaatkan. Namun, sikap individualisme mereka yang sudah akut membuatku semakin tertekan. Dalam pembagian kelompok mereka menghindar dan mungkin berdoa agar tak sekelompok denganku, entahlah hanya mereka yang tahu. Oleh karena itu, kelulusanku dengan nilai 49.95 adalah sebuah keajaiban, sebuah keberuntungan yang selalu mereka ucapkan padaku.
Aku tak mau hal tersebut terulang kembali ketika aku kuliah. Aku ingin menjalani sesuatu yang aku cintai, bukan belajar mencintai hal yang sebenarnya aku benci. Kenangan-kenangan masa lalu, hobby yang aku miliki, dan keinginan untuk karir masa depanku memantapkan hatiku untuk memilih kuliah di jurusan Sastra
Akhirnya mereka memperbolehkan meskipun aku tahu itu hanya ucapan sementara. Secara diam-diam aku membuat daftar pilihan SNMPTN sesuai keinginanku. Pilihan pertama Sastra Indonesia UNPAD (
Esok harinya aku mulai melakukan penawaran untuk masa depanku. Hmm…lucu memang melakukan penawaran dengan orang tua untuk masa depan yang harusnya menjadi hakku. Aku akan mengikhlaskan satu tahun tak kuliah asalkan boleh mengikuti UM-UGM dan memperbolehkanku kuliah disana ketika aku diterima nanti. Ini gambling terbesar dalam hidupku. Mereka menyepakatinya. Satu tahun kujalani dengan belajar. Aku berperang dengan psikisku yang sudah rusak. Di saat teman-temanku telah belajar ilmu baru, aku masih berkutat dengan pelajaran SMA. Di saat mereka membicarakan nilai IP, aku hanya tahu tentang hasil tryout. Begitu sulit mengikhlaskan sesuatu yang sudah kita dapatkan dengan banyak perjuangan. Ujian UM-UGM kujalani tanpa dukungan penuh dari keluarga. Disaat para peserta diantar dengan orang tua, kakak, atau bahkan saudara mereka, aku hanya menunggu sendirian. Menatap anak-anak yang lain dengan iri. Semua aku lakukan tanpa mereka. Aku seakan hidup sendirian. Saat pengumuman itu tiba dan aku mendapatkan apa yang aku inginkan rasanya tak bisa aku lukiskan. Satu tahun terasa tak sia-sia ketika menyandang nama mahasiswa UGM. Mungkin bukan sekadar itu alasannya, tapi juga jauh dari keluarga membuatku mempunyai ruang untuk menata kembali perasaanku. Rasa sakit itu butuh waktu untuk sembuh. Selama hampir satu tahun di Yogya, baru bulan lalu aku merasa kangen dengan mereka. Namun, tetap saja rasa kangen ini tak membuatku berubah pikiran untuk datang pada acara wisuda itu. Aku masih belajar untuk memahami mereka. Aku ingin semua dimulai dari awal. Ketika aku mulai tinggal di Yogya, aku telah menekan tombol restart untuk hidupku. Mereka tetap bagian dari hidupku. Aku mulai membangun kepercayaanku pada mereka karena aku sadar aku tak
Maaf...
Ini hanya satu kata yang mampu kuucap untukmu..
Dua kali aku mempermainkan hatimu..
Membuatmu berharap terlampau jauh..
Maaf..maaf..
Sungguh aku tak berniat mendustaimu..
Menyakiti perasaanmu..
Mengecewakan dirimu..
Maaf..maaf..maaf..
Taukah kamu tanganku gemetar mengirim pesanku..
Mataku menerawang akspresi sendumu..
Tanpa sengaja menghapus anganmu tuk bertemu denganku..
Maaf..maaf..maaf..maaf..
Begitu kejamnya aku padamu..
Tak peka pada kasihmu..
Semua seolah hanya tentang perasaanku..
Tanpa peduli kerinduanmu..
Maaf..maaf..maaf..maaf..maaf..
Atas semua keegoisanku..
Padahal aku tau kamu tak lagi seperti dulu..
Tapi aku seakan ingin menghukummu..
Membalas sakit hatiku..
Maaf..maaf..maaf..maaf..maaf..maaf...
Biarlah semua jadi masa lalu..
Kan kukubur dalam-dalam lukaku..
Kini kita buka lembaran baru..
Namun aku tetap menyimpan maaf...
Bila nanti kan ada pertikaian baru..
Persamaan sikap kita selalu memicu..
Hmmm..bukankah itu pembuktian bahwa aku memang anakmu..
Wahai mamaku terimalah maaf anakmu..
ANAKMU BUKANLAH ANAKMU
KAHLIL GIBRAN
“Anak adalah kehidupan, mereka sekedar lahir
melaluimu tetapi bukan berasal darimu.
Walaupun bersamamu tetapi bukan milikmu,
curahkan kasih sayang tetapi bukan memaksakan pikiranmu
karena mereka dikaruniai pikirannya sendiri.
Berikan rumah untuk raganya, tetapi tidak jiwanya, karena
jiwanya milik masa mendatang, yang tak bisa kau datangi
bahkan dalam mimpi sekalipun.
Bisa saja mereka mirip dirimu, tetapi jangan pernah
menuntut mereka jadi seperti sepertimu.
Sebab kehidupan itu menuju ke depan, dan
tidak tenggelam di masa lampau.
Kaulah busur, dan anak-anakmulah anak panah yang melucur.
Sang Pemanah mahatahu sasaran bidikan keabadian.
Dia menentangmu dengan kekuasaanNya,
Hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat.
Meliuklah dengan suka cita dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
Sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat
Sebagaimana pula dikasihi-Nya busur yang mantap”.
1923
Harusnya kita merasa bahwa orang tua adalah orang yang paling mengerti diri kita. Dimana kita bisa berbagi segalanya dengan mereka. Bukannya orang yang bisa menahan kita. Menahan keinginan, harapan, dan kebebasan bersuara. Mereka menjadikan doktrin peraturan sebagai bentuk kasih sayang. Tanpa ingin tau apa yang ingin dikatakan anaknya. Tanpa disadari, mereka telah membentuk kepribadian yang berlandaskan keegoisan dan berazaskan ketergantungan. Mereka merasa mempunyai hak paten untuk memanipulasi sebuah kehidupan. Menjadikan keiginanan mereka menjadi petuah yang harus dituruti untuk menebus kehidupan kita selama kita masih bernapas. Menganggap kita masih lemah dan harus selalu berlindung dibalik punggungnya. Kasih sayang yang kan menjerumuskan ke jurang kemanjaan. Kasih sayang yang ingin mendapat balasan yang lebih besar selalu dinyanyikan setiap harinya. Balasan berupa pengorbanan yang kan merusak harapan dalam kemandirian. Mereka memang bukan orang-orang yang harus dibenci, mereka hanya orang-orang yang harus di waspadai. Dan pembalasan yang paling tepat adalah perdamaian. Mengalah bukan berarti kalah kan. Kita hanya butuh strategi cerdas untuk mengendalikannya. Karena hanya kita yang berhak menentukan arah kita.
Aku membuatmu dalam kegamangan pikiran,,
merasa butuh sebagai fasilitasi tulisan,,
lalu setelah itu apa yang aku lakukan?
sekedar memandangmu dengan kekosongan,,
aku hanya bisa diam,,
bersuara di kebisuan,,
Siang ini akan hilang,,
ditutup awan hitam yang kelam,,
kegelapan mulai datang,,
membayangi perasaan,,
membuka luka yang lama terpendam,,
kau hanya sebagai pelampiasan,,
curahan kasih sayang atau kebencian,,
yang telah aku rasakan,,
Kau hanya berfungsi sebagai penyimpan,,
kegalauan hati yang kebingungan,,
rasa yang tak terlukiskan,,
asa yang nantinya akan padam,,
kesepian yang selalu dalam peredaran,,
angan-angan yang belum tersampaikan,,
Ceritakan pada mereka semuanya,,
bagaimana aku dikecewakan,,
bagaimanana aku merasa gagal,,
bagaimana aku ditinggalkan dan menjadi sendirian,,
tapi ceritakn juga pada mereka,,
kapan aku menemukan impian,,
kapan aku merasakan keindahan,,
kapan aku berada dalam lubang kasmaran,,
kau adalah pengganti diriku,,
mengungkap sisi lain hatiku,,
penjelas maksud pikiranku,,
bagian dari diriku,,
karena disini tertuang seluruh hidupku,,

.jpg)